Minggu, 12 Mei 2013

Entahlah



Cakrawala sore ini begtu sesak dengan tebalnya awan Nimbrostratus yang tidak kelihatan ujungnya, aku larut menatapnya seperti ada sebuah keindahan yang tersirat dari bentuk-bentuknya. 
Hujan pun mulai menjamah permukaan tanah yang kering pecah, tanah yang seolah rindu sentuhan air. 
Tanah yang seperti selalu berusaha menggapai langit.
Hujan semakin menjadi, aku masuk kamar yang mirip studio foto berpita. Suara-suara yang bising pun tertutupi dengan suara ribut diatap rumahku. 
Terkadang aku merasakan rindu yang sangat kuat ketika titik hujan itu datang dengan perlahan.  
Mataku mulai terbelalak, bukannya merasa mengantuk dengan kehadiran titik-titik air yang turunnya rombongan. Yah.. aku rindu si pencinta hujan.

Di ruangan itu, aku merasakan sesuatu. Bahwa dia tidak mendengar kata-kataku. 
Asyiknya di belakangku.
Aku dalam tulisan indahmu, lebih indah dari apa yang disebut keindahan. 
Aku di nyatamu seolah tidak berarti.

0 komentar:

Posting Komentar

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com