Cakrawala sore ini begtu sesak dengan tebalnya awan Nimbrostratus yang tidak kelihatan
ujungnya, aku larut menatapnya seperti ada sebuah keindahan yang tersirat dari
bentuk-bentuknya.
Hujan pun mulai menjamah permukaan tanah yang kering pecah,
tanah yang seolah rindu sentuhan air.
Tanah yang seperti selalu berusaha menggapai
langit.
Hujan semakin menjadi, aku masuk kamar yang mirip studio
foto berpita. Suara-suara yang bising pun tertutupi dengan suara ribut diatap
rumahku.
Terkadang aku merasakan rindu yang sangat kuat ketika titik hujan itu
datang dengan perlahan.
Mataku mulai
terbelalak, bukannya merasa mengantuk dengan kehadiran titik-titik air yang
turunnya rombongan. Yah.. aku rindu si pencinta hujan.
Di ruangan itu, aku merasakan sesuatu. Bahwa dia tidak mendengar
kata-kataku.
Asyiknya di belakangku.
Aku dalam tulisan indahmu, lebih indah dari apa yang disebut keindahan.
Aku di nyatamu seolah tidak berarti.


0 komentar:
Posting Komentar